Sabtu, 24 Februari 2018

PENGUJIAN SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN : PIUTANG DAGANG

PENGUJIAN SIKLUS PENJUALAN DAN PENAGIHAN :
PIUTANG DAGANG
1.  Metodologi Desain Pengujian Perincian Saldo
Metodologi desain pengujian perincian saldo yang menggunakan model resiko audit digunakan para auditor dalam mendesain pengujian yang tepat untuk saldo piutang dagang. Dalam metodologi tersebut berkaitan dengan kertas kerja perencanaan bukti yang diperkenalkan dalam bab materialitas dan resiko.
Bukti yang memadai yang  akan dipakai dalam pengujian perincian saldo harus diputuskan berbasis dengan tujuan dengan tujuan (objective-by-objective). Pengambilan keputusan ini menjadi kompleks karena adanya beberapa interaksi yang mempengaruhi atas bukti tersebut. Contohnya auditor harus mengevaluasi pelanggaran dan mempertimbangkan risiko bawaan (inherest risk).Potensi dan resiko ini dapat bervariasi sesuai dengan tujuannnya, seperti halnya hasil pengujian pengendalian identifikasi risiko, yang bervariasi sesuai dengan tujuan.Auditor itu harus pula mempertimbangkan hasil pengujian subtantif dari penjualan dan penerimaan kas.
Dalam mendesain  pengujian perincian saldo piutang dagang, auditor harus memenuhi delapan tujuan perincian saldo. Delapan tujuan umum ini sama untuk seluruh akun, yang disebut tujuan audit yang terkait dengan saldo piutang dagang. Kedelapan tujuan tersebut adalah sebagai berikut :
1.     Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumla pada berkas utama, dan jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (kecocokan perincian).
2.     Perincian piutang dagang yang terjadi (Keberadaan).
3.     Seluruh piutang dagang sudah dihitung (Kelengkapan).
4.     Jumlah piutang dagang yang tepat (Akurasi).
5.     Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi).
6.     Pisah batas waktu piutang dagang yang tepat (pisah batas)
7.     Piutang dagang dinyatakan dalam nilai yang dapat direalisasikan (Nilai Terealisasi)
8.     Klien memiliki hak atas piutang dagang

2.  Mendesain Pengujian Perincian Saldo
Meskipun auditor menekankan akun-akun neraca dalm pengujian perincian saldo, akun laporan laba-rugi tidak dilupakan karena akun laporan laba/rugi diuji sebagai produk sampingan dari pengujian neraca. Sebagai contoh, jika auditor mengkonfirmasi saldo piutang dagang dan menemukan lebih saji yang disebabkan karena kesalahan dalam penagihan ke pelanggan, maka baik piutang dagang maupun penjualan menjadi lebih saji.
Konfirmasi atas piutang dagang merupakan pengujian terpentingterhadap perincian piutang dagang. Kita akan mendiskusikan konfirmasi secara singkat sambil mempelajari pengujian yang memadai untuk setiap tujuan audit-terkait saldo. Kita akan membahasnya lebih terperinci dalam bab ini.
Dalam membahas pengujian perincian saldo piutang dagang, kita berfokus pada tujuan audit terkait saldo. Kita akan mengasumsikan dua hal, yaitu:
1.     Auditor telah melengkapi kertas kerja.
2.     Auditor telah menetapkan risiko deteksi terencana untuk pengujian atas tujuan audit-terkait saldo.
         
3.  Konfirmasi Piutang Dagang
Persyaratan Standard Auditing
Standard audit mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA 07 (SSA 330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi tersebut, yaitu :
1.     Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu, misalnya totko diskon dengan penjualan tunai dan kartu kredit.
2.     Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan. Dalam industry tertentu, seperti rumah sakit, tingkat respon untuk konfirmasi itu sangat rendah.
3.     Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti substantive lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup. Jika klien memiliki pengendalian internal efektif dan risiko bawaan yang cukup rendah terhadap siklus penjualan dan penagihannya, maka auditor perlu memenuhi persyaratan dengan melakukan pengujian pengendalian, pengujian substantive atas transaksi, dan prosedur analitis.

Jenis-jenis Konfirmasi
1.     Konfirmasi positif
Konfirmasi positif adalah konfirmasi yang ditujukan kepada debitur untk meminta konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar atau salah.
2.     Konfirmasi negative
Konfirmasi negative juga ditujukan kepada debitur, tetapi hanya meminta respon jika debitur tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi.
Auditor berhak menentukan jenis konfirmasi yang akan digunakan, dan hal ini sebaiknya berdasarkan fakta dalam audit. PSA 07 menyatakan bahwa konfirmasi negative dapat dilakukan hanya jika tiga kondisi berikut dipenuhi.
1.     Piutang dagang terdiri dari sejumlah besar akun bersaldo kecil.
2.     Kombinasi antara risiko pengendalian dan risiko bawaan adalah rendah. Kombinasi risiko tidak dapat dikatakan rendah jika pengendalian internal tidak efektif atau terdapat kemungkinan salah saji. Jika audit tahun sebelumnya mengindikasikan bahwa piutang dagang sering tidak akurat, maka konfirmasi negative tidak tepat untuk dilakukan.
3.     Jika diyakini bahwa penerima konfirmasi tidak mengabaikan konfirmasi yang diminta. Misalnya, jika tingkat respon konfirmasi positif tahun-tahun sebelumnya sangat tinggi atau jika terdapat tingkat respon yang tinggi pada klien yang sama.

Biasanya, jika konfirmasi negative dilakukan, maka auditor akan memberikan penekanan pada efektifitas pengendalian internal, pengujian substantive dan prosedur analitis sebagai bukti kewajaran piutang dagang, dan mengasumsikan bahwa mayoritas penerima konfirmasi akan membaca dengan seksama dan merespon permintaan konfirmasi.
Konfirmasi negative biasanya digunakan untuk audit rumah sakit, toko ritel, bank, dan industry lain yang piutang dagangnya berhubungan dengan masyarakat umum. Kombinasi konfirmasi negative dan konfirmasi positif juga biasa dilakukan dengan mengirimkan konfirmasi positif kepada debitur dengan saldo besar dan menggunakan konfirmasi negative kepada debitur bersaldo kecil.

Penetepan Waktu
Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi diperoleh saat konfirmasi tersebut dikirimkan sesegera mungkin setelah penutupan tanggal neraca. Dengan ini auditor dapat secara langsung menguji saldo piutang dagang dari laporan keuangan tanpa perlu memperhatikan transaksi yang terjadi antara tanggal konfirmasi dan tanggal neraca. Selain itu, untuk melakukan audit berbasis ketepatan waktu, biasanya diperlukan konfirmasi akun-akun selama tanggal intermin.
Jika auditor memutuskan untuk mengkonfirmasi piutang dagang sebelum akhir tahun, maka auditor tersebut biasanya menyiapkan skedul ke depan untuk merekonsiliasi saldo piutang dagang pada tanggal neraca.

Keputusan Pengambilan Sampel
Jumlah sampel
Factor utama yang mempengaruhi jumlah sampel dalam melakukan konfirmasi piutang dagang terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
ü  Salah saji yang dapat diterima.
ü  Risiko yang tak terhindarkan (ukuran relative dari total piutang dagang, jumlah akun, hasil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspektasi salah saji).
ü  Risiko pengendalian.
ü  Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantive lainnya (perluasan dan hasil dari pengujian substantive atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detail lainnya).
ü  Tipe konfirmasi (konfirmasi negative biasanya membutuhkan sampel lebih banyak).
Pemilihan Sampel Pengujian
Beberapa tingkatan sampel diperlukan bagi hamper seluruh jenis konfirmasi. Dalam melakukan pendekatan untuk memilih tingkatan sampel, auditor perlu mempertimbangkan besaran nominal akun per individu dan jangka waktu peredaran piutang dagang. Dalam banyak kasus, auditor mengambil sampel seluruh akun diatas jumlah nominal tertentu dan memilih sampel acak atas sisanya.
Menjalankan Pengendalian
Setelah sampel konfirmasi ditentukan, auditor perlu melakukan pengendalian konfirmasi hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu menyiapkan konfirmasi, seperti memasukkan surat konfirmasi ke dalam amplop tertutup, atau melekatkan cap pada amplop, auditor harus melakukan pengawasan ketat.
Tindak Lanjut Bila Tidak Ada Tanggapan
Surat konfirmasi yang tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak dapat dianggap sebagai bukti audit. Misalnya, tidak ada tanggapan atas konfirmasi positif  bukan berarti merupakan bukti audit. Sama halnya dengan konfirmasi negative, jika tidak ada respon maka auditor tidak boleh menyimpulkan bahwa pelanggan menerima permintaan konfirmasi dan membenarkan permintaan informasi.
Jika menggunakan konfirmasi positif, PS 07 mensyaratkan prosedur tindak lanjut bila terdapat konfirmasi yang tidak diatnggapi. Biasanya, tindak lanjut dilakukan dengan mengirimkan permintaan konfirmasi kedua atau bahkan ketiga. Jika pelanggan tetap tidak mengembalikan surat konfoirmasi, maka perlu dilakukan tindak lanjut dengan prosedur alternative. Tujuan dari prosedur alternative adalah menentukan, tanpa konfirmasi, apakah akun yang tidak dijawab memang benar ada, dan disajikan dengan benar pada tanggal konfirmasi. Untuk setiap konfirmasi positif yang tidak dikembalikan, auditor dapat memeriksa dokumen untuk menguji keberadaan dan akurasi transaksi penjualan individu yang tercantum dalam saldo akhir piutang dagang.

4.       Mengembangkan Pengujian Atas Program Audit Terinci
Untuk lebih mempermudah pemahaman maka dalam membahas subbab ini, maka akan digunakan contoh kasus pada PT. Perkakas Prima guna mengilustrasikan pengembangan prosedur program audit untuk pengujian perincian dalam siklus penjualan dan penagihan. Prosedur ini ditentukan atas dasar pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
Mira Abadi, seorang auditor senior, menyiapkan kertas kerja perencanaan bukti sebagai panduan dalam memutuskan seberapa luas pengujian perincian saldo tersebut. Informasinya adalah sebagai berikut:
§  Salah saji yang dapat diterima. Ketentuan awal atas materealitas adalah diatas Rp 442.000.000 (sekitar 6% dari laba operasi sebesar Rp 7.370.000.000). Ia mengalokasikan Rp 265.000.000 ke audit piutang dagang.
§  Risiko audit yang bias diterima. Mira menentukan risiko audit yang dapat diterima adalah tinggi, karena perusahaan dalam kondisi keuangan yang bagus, stabilitas keuangan yang tinggi, dan pengguna laporan keuangan yang hanya sedikit.
§  Risiko bawaan. Mira menentukan bahwa tingkatan risiko yang tak terhindarkan adalah medium untuk keberadaan dan pisah batas karena hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai pengakuan pendapatan. Mira juga menentukan risiko yang tak terhindarkan adalah medium untuk nilai realisasi. Pada tahun-tahun sebelumnya, klien membuat penyesuaian audit atas cadangan piutang tak tertagih karena terbukti kurang saji. Risiko bawaan untuk tujuan lain ditetapkan rendah.
§  Risiko pengendalian. Penentuan risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit sesuai dengan standar yang ada.
§  Pengujian substantive atas hasil transaksi. Penentuan pengujian substantive atas hasil transaksi untuk setiap tujuan audit sesuai dengan standar yang ada.
§  Prosedur analitis.

§  Risiko deteksi terencana dan bukti audit terencana. Dua baris ini ditujukan untuk setiap tujuan berdasarkan kesimpulan dari dua baris lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar